“Donasi yang dibangun oleh para konten kreator adalah tindakan mulia, tapi jika dibungkus dengan narasi yang menyudutkan pemerintah, itu berubah fungsi menjadi propaganda politik. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap negara bisa terganggu,” jelasnya.
Ia menambahkan, komentar figur publik lain, seperti Rocky Gerung, harus ditempatkan secara proporsional. Kritik sah-sah saja dalam demokrasi, tapi harus berbasis fakta dan disampaikan etis, bukan provokatif di tengah kondisi trauma masyarakat.
“Kalau kritik dibangun dari isu yang belum terverifikasi dan dikemas provokatif, yang lahir bukan kontrol sosial, tapi kegaduhan. Inilah efek narasi yang dibangun Ferry Irwandi maupun Rocky Gerung dapat berpotensi memicu konflik sosial,” imbuhnya.
La Ode mengingatkan seluruh konten kreator dan figur publik untuk menempatkan etika di atas sensasi dan popularitas, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi trauma akibat bencana.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
